Sebelum mengupas tentang filosofi
Gunungan Wayang, perlu diketahui bahwa bahwa dalam rangka nguri-uri kabudayan
Jawa Desa Tresnorejo Kecamatan Petanahan telah mencanangkan Kampung Budaya
sekaligus membangun Oemah Budaya yang diresmikan keberadaannya oleh Bupati
Kebumen Bapak H. Arif Sugiyanto pada tanggal 22 Dsember Tahun 2022 juga membuat
Gapura Budaya yang berbentuk Gunungan Wayang yang memiliki filosofi kehidupan
yang diterapkan oleh para leluhur Jawa.
Begitu juga dengan SMA Negeri 1 Petanahan
juga tidak ketinggalan, bahkan sudah terlebih dahulu ikut melestarikan
kebudayaan Jawa dengan membangun Gapura Al-Jabal yang merupakan kependekan dari
Aliansi Jawa dan Bali yang diprakarsai oleh Bapak Sunarto, S.Pd. M.Pd. yang
merupakan Kepala Sekolah SMAN 1 Petanahan yang ke VIII Periode Masa Bhakti
Tahun 2013 s.d Tahun 2016 yang terinspirasi ketika mengadakan Study Tour ke
Bali.
Wayang merupakan salah satu warisan
budaya yang tiada duanya. Wayang merupakan sarana bercerita yang cukup ampuh
kepada masyarakat luas. Biasanya wayang menceritakan sisi kehidupan manusia
yang hikmahnya dapat diambil oleh penonton.
Sebelum memulai suatu pertunjukan
biasanya dalang akan mengeluarkan gunungan atau kayon. Sepertinya tak banyak
yang mengetahui jika gunungan wayang sangat sarat makna. Sebagai generasi yang
akan mewarisi kekayaan budaya Indonesia, sangat bijaksana jika kita mengetahui
makna gunungan yang sangat kaya makna tersebut.
Biasanya sebuah gunungan dilengkapi dengan
beberapa gambar yang mewakili alam semesta:
• Rumah atau balai dengan lantai bertingkat tiga dan pada bagian daun pintu
rumah dihiasi lukisan Kamajaya berhadapan dengan Dewi Ratih.
• Dua raksasa berhadapan dengan membawa senjata pedang atau gada lengkap dengan
tamengnya
• Dua naga bersayap
• Hutan belantara dengan satwa-satwa
• Harimau berhadapan dengan banteng
• Pohon besar di tengah hutan yang dililit seekor ular.
• Kepala makara di tengah pohon
• Dua ekor kera dan lutung di atas ranting
• Dua ekor ayam alas bertengger di atas cabang pohon
Gunungan pada wayang kulit berbentuk
kerucut (lancip ke atas) melambangkan kehidupan manusia. Semakin tinggi ilmu
dan semakin tua usia, manusia harus semakin mengkerucut (golong gilig)
manunggaling Jiwa, Rasa, Cipta, Karsa, dan Karya dalam kehidupan kita (semakin
dekat dengan Sang Pencipta).
Gapura dan dua penjaga pada Gunungan
Wayang Kulit (Cingkoro Bolo dan Bolo Upoto), lambang hati manusia baik dan
buruk. Tameng dan godho yang dipegang oleh raksasa tersebut diterjemahkan
sebagai penjaga alam dan terang.
Pohon besar yang tumbuh menjalar ke
seluruh badan dan puncak gunungan melambangkan segala budi-daya dan perilaku
manusia harus tumbuh dan bergerak maju (dinamis) sehingga bermanfaat dan
mewarnai dunia dan alam semesta. Selain itu, pohon besar yang ada pada gunungan
juga melambangkan bahwa Tuhan memberi pengayoman dan perlindungan bagi manusia
yang hidup di dunia ini.
Burung melambangkan manusia harus membuat
dunia dan alam semesta menjadi indah dalam spiritual dan material.
Benteng pada gunungan melambangkan
manusia harus kuat, lincah, ulet, dan tangguh. Sedangkan kera melambangkan
sifat manusia harus seperti kera mampu memilih dan memilah baik-buruk,
manis-pahit, karena kera mampu memilih buah yang baik, matang dan manis.
Harapannya, manusia dapat memilih perbuatan baik dan buruk.
Harimau di alam liar digambarkan sebagai
raja hutan, namun pada gunungan harimau dilambangkan bahwa manusia harus
menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri (punya jati diri), harus mampu bertindak
bijaksana dan mampu mengendalikan nafsu serta hati nurani untuk menjadi manusia
yang lebih baik, yang pada akhirnya bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain,
dan lingkungan sekitar.
Rumah joglo (gapuran) melambangkan suatu
rumah atau Negara yang didalamnya memiliki kehidupan aman, tenteram, dan
bahagia.
Budaya bangsa yang sudah diakui
kekayaannya oleh dunia harus dijaga, dan dimengerti, sehingga kelestariannya
akan terus terjaga hingga generasi anak cucu.
Demikianlah sekelumit tentang Filosofi
Gunungan Wayang, Gapura Budaya dan Al Jabal Smansata. Semoga dapat menambah
wawasan dan sebagai inspirasi.
SUMBER materi : http://www.beritakebumen.info
Editor : H. Sakijo, S.Pd. (Admin / guru
BK Smansata.)